Pages

Subscribe:
SELAMAT DATANG DI BLOG INI

Labels

Sabtu, 29 September 2012

MALAM

Hafyzov
20-09-2012
MalaM
Menerkam alaM
Menjadi hitaM
KelaM
SuraM
Sesaat kemudian rembulan tenggelaM
Ada seraM
Di sebelah terdengar suara berdebaM
Kulirik jam tajam tajaM
12 tengah malaM

La Vita Nova

Hafyzov
19 Mei 2012

Mungkin aku tak setulus itu kepadamu. Loyalitasku kadang terjangkit kebosanan. Ketika aku memandang gadia lain, aku selalu tergoda. Mereka kadang dan sering tampak lebih cantik darimu. Sementara kini, aku lupa tentang cintaku. Apakah aku mencintaimu karena kecantikanmu atau sebaliknya?.

Akhir akhir ini, loyalitasku semakin dicoba. Aku sering bentrok denganmu. Hanya gara gara sms yang tak dibalas. Jika aku memang keliru, aku minta maaf. Tapi sebentar, sebenarnya kamu atau aku yang benar? Dan yang salah siapa?. Kau terus ngotot bilang aku.

Seminggu yang lalu, kau menuduhku selingkuh. Kini kau memvonisku playboy. Aku bersabar. Pelan pelan kutanyakan. Kau ternyata menebak sebuah nama. Astaga!! Alangkah kagetnya aku. Kau menuduh aku selingkuh dengan adikku. Adik kandungku sendiri. Tuduhan mentah, impossible, dan sampah. Disini mungkin salahku juga, kenapa aku tak memperkenalkan adikku kepadanya?. Akhirnya kau juga minta maaf. Aku tau meski aku benar dalam masalah ini, dia bukan orang yang salah.

Suatu hari kau bilang padaku, “aku tau, kau sayang padaku. Namun kau tak boleh berlebihan dengan rasa sayangmu itu. aku khawatir ketika aku atau justru kau sendiri berubah. Aku hanya wanita, kau yang menilaiku cantik, bukan aku. Ketahuilah bahwa aku tak sempurna, kau yang memilihku. Aku juga tak bisa untuk menebak isi hatimu. Tentang kesetiaanmu. Aku tak tau seberapa lama kau akan mencintai dan menyayangiku. Bila sampai nanti, mungkin seperti itulah harapanku. Aku juga sayang kepadamu. Aku ingin memilikimu, sebagai harapan terbesarku. Harapan itu “meraksasa” dalam hatiku. Bila kau benar benar siap, pintalah aku kepada orang tuaku. Itu akan lebih baik untuk menghindari segenap kabar angin yang akan memojokkan kita ke sudut pergumulan kehidupan yang asing”.

Aku terharu mendengarnya. Terima kasih, kau mau percaya padaku sampai kau memberiku harapan sebaik itu. pada kata katamu, sebenarnya aku harus berpikir berkali kali untuk tak menerima pernyataanmu. Tapi sama sekali aku tak sesiap itu. bismillah saja tentu tak cukup. Kau sendiri dan aku saja masih kuliah, kau tau itu. aku menghormati ucapanmu. Bila kau mau menungguku, silahkan. Cuma disini aku tak menyempatkan diriku untuk berjanji. Yang jelas, bila ada seseorang yang lebih dulu mengetuk pintu rumahmu, jika dia bukan aku, kurasa dia lebih siap.

Jika aku harus memintamu sekarang, rasa rasanya aku malu. Malu sekali kepada ayah ibumu. Aku takut mereka menertawakanku dan bertanya, “jaminan apa yang bisa membuat aku percaya padamu, pemuda? Kau ini nekat”. Bulir bulir di sudut matamu berkata bahwa kau menangis. Kau tetap menginginkan aku. Aku meyakinkanmu bahwa apa yang kau terima nantinya itulah yang terbaik. Percayalah janji Allah tak pernah bohong.

Kini, kau tersenyum ketika aku menghadiri resepsi pernikahanmu. Aku yakin itu senyum bahagia milikmu. Kau bersanding dengan suamimu, sahabat karibku di pelaminan. Aku ucapkan: “BARAKALLAHU LAKA WABARAKA ‘ALAIKA WAJAMA’A BAINAKUMA FI KHAIR”.

Sungguh aku tak menderita dengan hal ini. dia yang menyarankanku dulu supaya tak terlalu habis habisan untuk menyayanginya. Kurasa ini yang terbaik buat dia juga buat aku.

Dia telah menyempurnakan separuh keimananannya. Dia juga telah patuh kepada sunnah nabinya. La Vita Nova, selamat menempuh hidup baru.

Atika

ATIKA
Hafyzov
22-09-2012

kalA
aku tak bisa mendebaT
aku ingin memahamI
arti setiap kehendaK
cintA

Jumat, 04 Mei 2012

Risalah



Dalam kehidupan ini aku ditakdirkan bertemu denganmu. Baiklah…itu murni bukan rencanaku, juga bukan rekayasa. kemudian aku merasa suka padamu, dan cinta bukanlah hal asing. Cinta telah kukenal lewat catatan catatan mereka, telah kubaca dalam novelet mereka tentang bahasannya, juga telah didefinisikan. Ternyata aku tak sempurna membaca seluruh definisi itu, sehingga ketika aku menulisnya sendiri, tak ada yang mengerti tentang definisiku itu sama sekali.
Definisiku telah kuhentikan, tak kuteruskan. Ia terlalu membingungkan. Definisi itupun telah kuremukkan bersama kertas itu dalam genggam tangan kananku.
Aku takkan membahas cinta itu lagi. Biarkan ia bersama definisinya sendiri. Mentari lebih hangat untuk menjadi sekadar simbol hari yang cerah. Mentari itu juga telah dikenal siapapun di sepanjang pagi untuk menggantikan peran malam.
Lewat risalah ini, berilah aku kesempatan untuk memaparkan selain segala cinta itu kepadamu. Karena aku ingin cinta itu berjalan secara natural, tanpa “keterikatan” dan “memiliki” seperti pemikiranku sebelum ini. Aku pikir hal itu lebih ringan untuk menghindari resiko resiko yang lebih besar. Karena yang menentukan “cinta kemudian” bukan dan belum tentu “cinta sekarang”. Aku telah berpikir logis habis habisan, dan aku hanya menemukan satu kesimpulan ini. kurasa lebih dewasa.
Aku berharap kau takkan menganggapku sebagai lelaki yang plin plan dan ini juga bukan karena aku menemukan pilihan lain. Disini, ungkapan tentang diriku padamu tak pernah beranjak dari ketersekatan untuk beralih pada status selanjutnya. Biarlah cerita cinta siang hari milikku beranjak sore untuk selanjutnya tenggelam dan berwarna malam. Aku akan selimuti hatiku dengan keadaanku, begini. Esok pagi, aku tau bahwa cinta itu telah tertinggal bersama malam.
Keadaanlah yang membuatku mengatakan ini semua. Keadaan yang tak seperti apa apa. Kadang seseorang juga harus berhadapan dengan pilihan. Aku lebih memilih keadaan dan harus memarkir cinta. Aku tak mengenyampingkan dirimu, Cuma aku berpaling dari cinta yang ku khawatirkan suatu saat nanti kan memiliki akibat yang melukai, baik diriku atau dirimu, dan dirimu dulu juga pernah mengantarkan sebuah kekhawatiran ini kepadaku.
Cinta tak pernah memberi waktu yang lebih lama kepada seseorang untuk menjamin bahwa seseorang itu akan selamanya memiliki. Pada kalimat yang tak asing bahkan sering seseorang mengatakan tentang kesetiaan, loyalitas. Itu karena pengaruh bawaan cinta. Pada akhirnya ketika kita bicara hati hanya satu jawabannya, tak ada hati yang tak berubah. Biarkan esensi bersama itu tetap berstatus sahabat.
Hafyzovski.