Pages

Subscribe:
SELAMAT DATANG DI BLOG INI

Labels

Selasa, 09 Oktober 2012

Biografi Cristiano Ronaldo


Nama Lengkap: Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro

Nama Populer: CR7
Tanggal Lahir: 5 Februari 1985
Tempat Lahir: Funchal, Madeira, Portugal
Nomor Punggung: 7
Negara: Portugal
Profesi: Pemain Sepak Bola

Cristiano Ronaldo lahir pada tanggal 5 Februari 1985 di Funchal, Madeira, Portugal. Dia merupakan pemain sepak bola asal Negara Portugal dan saat ini Bermain Untuk Club Real Madrid.
Cristiano Ronaldo dikenal sebagai pemain sayap dari Manchester United dari 2003-2009 sebelum pindah ke Real Madrid pada 1 Juli 2009 dengan memecahkan rekor transfer sebesar 80 juta poundsterling menjadikannya sebagai pemain termahal dalam sejarah sepak bola. Ia biasa bermain sebagai sayap kiri atau kanan serta penyerang tengah. Ia mulai dipanggil ke Timnas Portugal sejak tahun 2003.

Dia memiliki kakak laki-laki bernama Hugo, dan dua kakak perempuan, Elma dan Liliana Cátia. Liliana Bekerja sebagai penyanyi dengan nama panggung "Ronalda" di Portugal.Nama kedua yang diberikan kepada Cristiano ("Ronaldo") relatif langka di Portugal.

Cristiano Ronaldo merupakan pemain sepak bola yang dapat bermain dengan kedua kakinya yang membuat dia dapat bermain di mana saja: kanan, kiri atau melalui tengah. Ini mengakibatkan Ronaldo dan rekannya sesama pemain sepak bola di Manchester United Ryan Giggs dapat saling bertukar posisi.

Ronaldo memiliki kemampuan teknik yang hebat. Di samping gerakan multi step-over, dia juga mengembangkan banyak kemampuan lainnya, membuat dia sangat lincah dan sebagai pemain sayap yang tidak dapat diprediksikan gerakannya. Disamping kemampuan mengolah bolanya yang luar biasa, dia juga piawai dalam mengeksekusi bola-bola mati, itulah yang membuatnya menjadi salah satu pemain yang paling berbahaya bagi lawannya, dia dapat mencetak gol dengan cara apapun.

Karier Cristiano Ronaldo:
  • Sporting Lisbon (1999-2003)
  • Manchester United (2003– 2009)
  • Real Madrid (2009 - sekarang )
  • Mendapat Penghargaan Pemain Terbaik Eropa Tahun 2008
  • Mendapat Penghargaan Pemain Terbaik Dunia versi FIFPRO
  • Mendapat Penghargaan Pemain Terbaik Dunia FIFA 2008


Biografi Emha Ainun Nadjib


Emha Ainun Nadjib yang akrab dipanggil Cak Nun adalah seorang seniman, budayawan, intelektual muslim, dan juga penulis asal Jombang, Jawa timur. Ia merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Cak Nun lahir di Djombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Gontor Ponorogo karena melakukan ‘demo’ melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogya dan tamat SMA Muhammadiyah I. Istrinya yang sekarang, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi.
 
Biografi Emha Ainun Nadjib Cak Nun dari Google Biografi
 Lima tahun hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970-1975 ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan Emha. Selain itu ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).
Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensialitas rakyat. Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang mBulan, ia juga berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10-15 kali per bulan bersama Musik Kiai Kanjeng, dan rata-rata 40-50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Selain itu ia juga menyelenggarakan acara Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki. Kenduri Cinta adalah forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas gender. Dalam pertemuan-pertemuan sosial itu ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.
Bersama Grup Musik Kiai Kanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.
Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan, itu pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu.  Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuatrumah kontrakannya, di Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernah mereka datangi, untuk satu dua kali pertunjukan. Selain manggung, ia juga menjasjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya be baik sudah berdakwah,” katanya.
Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik Kiai Kanjeng di taman budaya, maya itu sejak akhir 1970-an, bekerja sama dengan Teater Dinasti — yang berpangkalan di ntuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.
Dia anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya, Almarhum MA Lathif, adalah seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sempat masuk Pondok Modern Gontor Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian pindah ke SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat. Lalu sempat melanjut ke Fakultas Ekonomi UGM, tapi tidak tamat.
Lima tahun (1970-1975) hidup menggelandang di Malioboro, Yogya, ketika belajar sastra dari guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha berikutnya.
Karirnya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970). Kemudian menjadi Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media.
Ia juga mengikuti berbagai festival dan lokakarya puisi dan teater. Di antaranya mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

Karya Seni Teater
Cak Nun memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya bersama Halimd HD, networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa reportoar serta pementasan drama. Di antaranya: Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan ‘Raja’ Soeharto); Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan); Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).
Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun). Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar); dan Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).
Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, Duta Dari Masa Depan.
Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi. Terbukti, dia telah menerbitkan 16 buku puisi: “M” Frustasi (1976); Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978); Sajak-Sajak Cinta (1978); Nyanyian Gelandangan (1982); 99 Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisiran (1989); Lautan Jilbab (1989); Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990); Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek Buku Harian Indonesia (1993); Abacadabra (1994); dan Syair Amaul Husna (1994)
Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya: Dari Pojok Sejarah (1985); Sastra Yang Membebaskan (1985); Secangkir Kopi Jon Pakir (1990); Markesot Bertutur (1993); Markesot Bertutur Lagi (1994); Opini Plesetan (1996); Gerakan Punakawan (1994); Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996); Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994); Slilit Sang Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994); Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995); Bola- Bola Kultural (1996); Budaya Tanding (1995); Titik Nadir Demokrasi (1995); Tuhanpun Berpuasa (1996); Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997); Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997);
Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997); 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998); Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998); Kiai Kocar Kacir (1998); Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998); Keranjang Sampah (1998); Ikrar Husnul Khatimah (1999); Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000); Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000); Menelusuri Titik Keimanan (2001); Hikmah Puasa 1 & 2 (2001); Segitiga Cinta (2001); “Kitab Ketentraman” (2001); “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001); “Tahajjud Cinta” (2003); “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003); Folklore Madura (2005); Puasa ya Puasa (2005); Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara); Kafir Liberal (2006); dan, Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006).

Pluralisme
Cak Nun bersama Grup Musik Kiai Kanjeng dengan balutan busana serba putih, ber-shalawat (bernyanyi) dengan gaya gospel yang kuat dengan iringan musik gamelan kontemporer di hadapan jemaah yang berkumpul di sekitar panggung Masjid Cut Meutia. Setelah shalat tarawih terdiam, lalu sayup-sayup terdengar intro lagu Malam Kudus. Kemudian terdengar syair, “Sholatullah salamullah/ ’Ala thoha Rasulillah/ Sholatullah salamullah/ Sholatullah salamullah/ ’Ala yaasin Habibillah/ ’Ala yaasin Habibillah…”
Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu selesai dilantunkan. “Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat,” ujarnya menjawab pertanyaan yang ada di benak jemaah masjid.
Tampaknya Cak Nun berupaya merombak cara pikir masyarakat mengenai pemahaman agama. Bukan hanya pada Pagelaran Al Quran dan Merah Putih Cinta Negeriku di Masjid Cut Meutia, Jakarta, Sabtu (14/10/2006) malam, itu ia melakukan hal-hal yang kontroversial. Dalam berbagai komunitas yang dibentuknya, oase pemikiran muncul, menyegarkan hati dan pikiran.
Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme.
“Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.

Minggu, 07 Oktober 2012

SUKA ITU WAJAR


(Sebuah narasi untuk mahasiswi yang tanpanya ada yang tak lengkap)
Hafyzov
 
Sebenarnya di kampus ini semuanya telah menjadi sahabatku. Tentang bisik bisik cantik dan sebagainya itu juga termasuk disini. Iya ya… tanpa disadari kadang aku juga sering memperhatikan kamu.
***
Ketika aku menoleh, ada seorang mahasiswi yang selalu ingin menjadi target pandanganku. Padahal semua mahasiswi disini cantik seperti kondisinya masing masing. Aku tau, bahwa sore selalu menjadi penutup kuliah ini, tentunya setelah sang dosen menutupnya dengan salam. aku, dia, dan mereka akan segera beranjak dan berpisah. Esok menjadi lembaran baru dari setiap episode kehidupan yang masih bergulir. Entah skenario macam apalagi yang mesti aku hadapi. Karena bersedia atau tidak bersedia, skenario itu tersedia dan akan berlaku. 

Jika mereka membaca tulisanku ini, tentu saja mereka akan berasumsi bahwa aku jatuh cinta. Terus terang, aku tak berbicara perasaan yang istimewa, aku hanya berbicara tentang mahasiswa, karena ketika kamu tak hadir, selalu ada yang mengharapkan kehadiranmu. Mengapa seperti itu?. karena tanpa kamu, yang disini tak lengkap. Kamulah pelengkapnya.

Kupandangi wajahmu sekali, dua sampai tiga kali. Inilah wajah gadis itu. bagiku memandangmu kadang menjadi intermezzo konkret dari keabstrakanku yang porak poranda. Aku tak memilihmu untuk kumiliki. Namun jika kamu harus menjadi destinasiku, aku bersedia. Hmmm… terlalu berlebihan.

Kamu tau, ketika berbicara demikian, pada akhirnya bermuara pada cinta. padahal, tak bisa dirahasiakan lagi bila, stabilitas cinta cenderung fluktuatif, naik-turun, kadang ada saatnya naik ke titik kulminatif, kadang equilibrium, atau bahkan menukik jatuh ke titik degradasi. Cinta selalu menjadi materi dialog, monolog, prolog, dan epilog.
Bila kamu terlahir untukku, pasti kamu hanya untukku, bukan untuk siapa siapa. Bila aku terlahir untukmu, pasti aku juga bukan untuk siapa siapa. Masalahnya, aku tak tau aku lahir untuk siapa, juga dirimu. Ah semua itu tak penting. untuk saat ini, yang terpenting adalah tetap duduk seperti biasanya lalu mendengarkan pak bu dosen berceramah.
Suka itu wajar.

AKUPUN SEORANG PENDUKUNG


Hafyzov
(catatan seorang Madridistas)
Dukungan merupakan bentuk dorongan memihak untuk hal yang disukainya untuk hal apapun. Dukungan ini merupakan kebalikan dari tidak memihak. Ketidakberpihakan itu biasanya terjadi karena ada hal yang tidak biasa untuk bisa disukai atau ada faktor tertentu yang lain hingga menyebabkan itu. bentuk dukungan bisa terjadi melalui apa saja yang terkait dengan hal yang disukainya. Bisa dengan tulisan, bisa dengan yel yel, atau bisa juga dengan mengoleksi bagian atau hal yang berkenaan dengannya. Pendukung akan senang jika keberuntungan selalu berpihak kepada tim dukungannya. Pasti.

Akupun seorang pendukung. Ini sebuah pengakuanku. Aku pendukung Real Madrid, Madridistas. Itulah kenapa facebookku namanya Al Madridista (berembel embel Madrid). Entah mengapa aku memilih Real Madrid? Karena aku suka. Namun yang jelas Real Madrid merupakan klub yang bersejarah dan sarat prestasi (terbukti dengan seabrek trofi), dan selalu garing – segaring kacang Dua Kelinci - dalam perbincangan dunia sepakbola. 

Kegandrungan pendukung sering menimbulkan ketidaksukaan kepada yang lain, karena mereka bukan pilihan dalam pihaknya, sehingga berujung kepada kebencian. Untuk mendukung tim manapun, itu pilihan pribadi. Asal cocok dengan “seleranya”. Perbedaan dukungan itu tak pelak, selalu menimbulkan perdebatan sengit tentang timnya masing masing dan itupun manusiawi. Aku menikmati dukunganku terhadap tim favoritku. Sekadar memperlebar, ada banyak tim sepakbola yang bisa kudukung selain Real Madrid. Ada Timnas Indonesia, Brasil, dan Jerman. Aku selalu menjadi “pendukung” setia tim lain (selain favoritku), namun perlu dketahui bahwa dukunganku itu berlaku pada saat tim lain itu keok, lebih lebih tim favoritku yang mengalahkannya.

Ada hal yang harus selalu diingat sebagai pendukung, yaitu respek terhadap pendukung tim lain. Aku mendukung tim favoritku, dia pasti mendukung tim favoritnya. Sama sama mendukung, hanya pilihannya berbeda. Aku berjanji, untuk dukunganku. kukira takkan berubah untuk “menyeberang” ke tim lain. aku akan mendukungmu, tak penting kalah atau menang. Untuk Real Madrid 100%.
Pada akhirnya takkan ada tim yang menang jika tak ada tim yang kalah. Status menang ia dapatkan karena ada tim lain yang kalah. Loyalitas support-ku kepada Real Madrid tentu saja diiringi hala Madrid!.