Pages

Subscribe:
SELAMAT DATANG DI BLOG INI

Labels

Kamis, 07 Maret 2013

Pergi dan Kembali

 Hafyzov
 07-03-2013

Tiapkali kamu pergi lama lama dari tanah leluhur ini, lama lama aku koq ingin kamu segera kembali. karena rindu selalu membisikkan bahwa hadirmu merupakan obat untuk situasiku. 
Pergilah
tujuanmu itu
ada disana
jauh

Tiapkali kamu kembali ke tanah leluhur ini, jiwaku serasa kembali tangguh. diriku serasa kembali bangkit dari rapuh. kehadiranmu mengalahkan hasrat hasrat untuk memiliki kecantikan kecantikan yang kerap menggodaku.
 Kembalilah
disini tanah leluhurmu
disini ada yang menantimu
disini ada yang merindukanmu


Kamis, 28 Februari 2013

Secret Admirer



Hafyzov
28-02-2013

“Mungkin selama ini kamu tak pernah menyadari bahwa ada mata yang betah memandangmu. Itulah mataku. Ada lisan yang selalu mengucap namamu, itulah lisanku. Ada pendengaran yang selalu mendengar tutur halusmu, itulah pendengaranku. Ada hati yang telah lama menyimpan cinta untukmu, hatiku. Hanya tak ada yang tau jika aku mencintaimu, termasuk kamu. Kusimpan rapat-rapat, kudekap erat-erat. Ingin kukatakan, tapi tercekat. Ada rindu, ada cemburu. Tuhan yang tau kucinta kau.”

Kamu tak perlu tertekan. Kamu juga tak usah terpojok. Aku hanya mengatakan sebenarnya. Inilah arti diamku. Suara yang tertunda untuk mengungkapkannya di masa lalu. Aku menyayangimu. Aku berharap semoga kamu belum menjadi milik orang lain.

Dahulu aku sering berjumpa kamu, kadang juga menyapamu, dan bahkan bersama sama kamu. Namun hanya itu. Selebihnya hanya muatan cinta tak terungkap yang menyarati hatiku. Sering aku memimpikanmu. Namun begitu aku terbangun semuanya berakhir. Aku hanya bermimpi rupanya. Ada cemburu ketika ada lelaki lain mendekati dan membicarakan tentangmu. Sebenarnya ada keinginan untuk mengatakan cinta itu, namun aku tak bisa menguasai debar debar dadaku. Aku urungkan. Semua itu terus berjalan seiring berlalunya waktu menjemput masa depan. Hingga kau memilih tempat yang jauh sebagai destinasi pengembaraan pengetahuan. Sementara aku bertahan di suasana lamaku. Disini. Aku hanya ingat saat kau tersenyum – entah untuk siapa. Itu terakhir kali aku melihatmu – saat itu. Namun permohonan dalam doaku tak berhenti disitu. Aku selalu berharap semoga Tuhan mengabulkan doaku. Doa untuk memilikimu seutuhnya.

Kadang aku tersenyum sendiri mengingat tingkahku saat pertama aku mencintaimu. Namamu kutulis dalam kitabku,  yang semula aku tak pernah menulis sajak itu, tapi pada akhirnya aku malah sering menulisnya. bahkan aku sempat ingin berkirim surat padamu, namun tak pernah jadi (maklum resikonya besar), kalau ketahuan bakal ditawan oleh pengurus keamanan. Padahal pengurusnya begitu juga (loh… koq jadi nuduh begini ya??). Melupakanmu akhirnya menjadi hal tersulit bagiku (sebuah kesimpulan). Karena semua tempat yang kulalui sepertinya hadir dirimu, ada senyummu. Aku benar benar …..ehm ehm…. (sulitnya ya mau mengucapkan) mencintaimu.

Oh iya,,, aku juga teringat, sebenarnya aku hampir mengucapkan itu saat aku berdua saja denganmu di kantor OSIS. Namun mendadak grogiku naik, nervousku memuncak, dan deg-deg-deg kencang sekali rasanya memukul dadaku. Kemudian aku menyembunyikan kejujuranku dengan pura pura menyapamu, “hai Tika, kayaknya ada tugas baru ya?”, sapaku. Itu saja. “iya nich”, jawabmu. Padahal ketika aku berlalu dari kantor itu, “bodohhh… kenapa aku tak mengatakannya saja?”, sesalku. Tapi mungkin aku memang bodoh. Meski tak sebodoh itu. Sebuah kesempatan emas berlalu begitu saja. Andai aku membuka tabir rahasia cintaku, pasti akan lain jawabanmu. Mungkin jawabanmu adalah semu merah di pipimu. Tapi sedalam ini rasa cintaku padamu, justru ada gosip beredar bahwa aku jatuh cinta kepada siswi kelas II IPS Putri. Setiapkali lewat di depan kelas putri mereka selalu meneriakkan nama siswi itu. Siaaaaaaallll…

Cepat atau lambat masa lalu akan dilewati oleh segenap manusia. Cinta, sebuah catatan kehidupan terindah yang aku alami di sekolah. Meski hanya menjadi sebatas Secret Admirer (Pemuja Rahasia).

Ternyata Tuhan masih mempertemukan kita (lagi). Setelah melewati perjalanan panjang, inilah saatnya untuk mewujudkan cinta yang tak terungkap di masa lalu. Kini cinta itu bukan berdimensi masa lalu. Tapi berdimensi cinta masa depan dan sampai nanti.

“Tuhan, pertemukanlah Dia dan Aku dalam ikatan suci yang kokoh. Agar cinta yang bersemayam ini tumbuh dan berbuah kasih sayang-Mu yang bisa kuraih, kupetik buah ranumnya dengan tangan tangan suciku pula.”





Jumat, 22 Februari 2013

CANTIK



Karena Engkau Gadis
Hafyzov
22-02-2013

Melihat ciri ciri itu, dari jauh aku pun paham bahwa yang datang itu kamu, cantik. Kamulah gadis berjilbab biru langit itu. Wajah cerahmu, tatapan teduhmu, hidung mancungmu, hingga bibir sensualmu semakin mengundang simpati orang orang yang memandangmu. Mempertegas kecantikanmu pula. Cantik…. Kamu seperti bidadari saja. You’re angel in campus. (hehe… kayak pernah ketemu bidadari aja….) Khan kamu bidadarinya. (tuch kan udah kumat gombalnya…).

Cantik, ternyata kamu datang juga. Sayang kamu tak datang untukku. Kamu datang untuk mewujudkan niatmu. Sama seperti aku, dia, dan mereka. (kata orang sich sebagai Agent of Change). Lelaki itu siapa? Kekasihmukah?...Ooo…

Cantik, aktivitas di kampus inilah yang memperkenalkanku dengan dirimu. Dulu. Cantik. Hmm… namamu klop sekali dengan parasmu yang cantik. Beaux (kata orang Prancis). Keindahan pada sosok gadis. Keindahan - lebih tepatnya – kecantikan sebagai kombinasi dan kolaborasi garis ketampanan dan kecantikan ayah bundamu. Kecantikan yang tak memerlukan mahkota seperti mahkota Miss Universe untuk diakui. Akupun mengakui bahwa kamu cantik. Cantik, kamu seperti melati mekar setangkai lantas harum sekuntum. Membuat “kumbang-kumbang” terperanjat dan terjebak pesonamu. (Tapi aku bukan kumbangmu loe…).

Cantik, did you know? Pesonamu telah menjadi bagian yang tak terlupa dari – sekadar -  bisik bisik, hingga rasan rasan mereka, aku juga. Cantik, kamu telah membukakan mata(ku) yang seperti terhibernasi. Cantikmu bukan lagi rahasia. (Lha iya wong diliat tiap hari koq….).

Oh iya… aku sometimes berpapasan denganmu. Setiap aku berpapasan, parfummu wangi sekali. Khas gadis. Feminine. Hmmm…. Parfume awakes desire (Artiin ndiri …). (Maaf)… bukan aku bermaksud menikmati parfummu. Tapi saat itu aku memang sedang tidak dalam kondisi pilek. Sumpah. Lama lama mungkin aku akan semakin sering berjumpa denganmu. Semoga aje. (www.ngarep.com).

Cantik, andai aku memiliki kekasih kamu atau minimal seperti kamu lah, pasti (aku lagi ngayal). Ah bodoh amat! Sebenarnya aku mah juga pengen. Kalopun nggak cantik ya setidaknya yang jelita…(itu khan sama aja, ibarat mengharap siang, dapat matahari…). Kepada lelaki itu kuucapkan “Felicidades, congratz”. “Lanjutkan!”, Kata Pak EsBeYe.

Cantik, kamu memang makhluk Tuhan yang cantik. Tapi akhir akhir ini kamu jarang kulihat lagi. Kemanakah kau? Ada denganmu? Apakah kau marah karena aku menulis tentangmu? Atau jangan jangan kau hanyalah halusinasiku. Ilusiku yang abstrak!

Cantik…
Aku bilang cantik
Karena kau cantik
Karena namamu cantik
Karena kau seorang gadis
Cantik

Sebuah Isyarat

Hafyzov 06-02-2013
Aku tak mengerti kenapa tiba tiba ada sosok yang membuatku berdebar. Seorang gadis. Detak jantungku seakan berpacu lebih cepat. Deg deg deg …. (Alhamdulillah berarti aku masih hidup). Saat ia datang suasana serasa lebih mempesona. Akupun selalu ingin memperhatikannya…. Jangan jangan ini akibat ulah si cupid…! 
 Ketika aku menoleh, aku menoleh kepada dia. Meski kadang untuk – sekadar - mencuri pandang saja. Dia cantik. Itu yang menjadi alasan kenapa aku selalu ingin menatapnya dalam waktu yang lama. Darimana datangnya lintah, dari rawa turun ke kali. Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Itu kata sebuah jargon. Mungkinkah jargon itu berlaku buatku? Ah… ungkapan klasik. Jadul. Aku tak tau apakah itu cinta atau bukan. 
Aku mengerti bahwa senja selalu menjadi epilog, penutup perkuliahan ini. Senja selalu memisahkan aku dan dia. Ya. Aku, dia, kamu, dan mereka akan segera beranjak dan berpisah. Tapi aku tak pernah membenci senja. Sama sekali. Karena aku mampu membisikkan sebuah keyakinan dalam jiwaku, “tak apalah kita berpisah, bukankah hari esok akan mempertemukan kita lagi?”. Hari esok menjadi prolog, pembuka lembaran baru dari setiap kehidupan yang masih terus bergulir. Entah skenario Tuhan yang macam apalagi yang mesti kuhadapi. Yang jelas, hari ini dan yang akan aku sambut harus lebih baik dari hari yang telah aku lalui. Jika aku ingin menjadi manusia yang beruntung. Cemunguuuuuth….!! 
Sudah aku bilang, aku tak terlalu larut untuk berenigma, berteka teki apakah yang kurasa itu cinta atau bukan. Cinta itu terlalu istimewa. Hingga menuntut sesuatu yang lebih. Meski di satu sisi ada alasan untuk menerima apa adanya. Terlepas dari alasan alasan itu, sejujurnya dapat kutebak bahwa ketika dia tak hadir, aku yakin ada yang selalu harapkan kehadirannya. Entah siapa? Rasakan sajalah isi hatimu. Yang jelas, tanpa hadirnya dia merasa ada yang tak lengkap. Setidaknya menyesal tanpa hadirnya. Hmmmmm…. Inikah sebuah isyarat? Isyarat apa?. (jawab sendiri) 
 Kupandangi wajahnya sekali, dua sampai tiga kali. Aku mengakui terbersit kekaguman dari diriku. “ini wajah gadis itu. Cantik sekali”, gumam batinku. Bagiku memandangnya – kadang – menjadi intermezzo konkret dari suasanaku yang cenderung ragu ragu. 
 Jika dipikir, bagaimana aku tak memandangnya, semantara aku bukanlah orang buta. Jadi, aku masih akan terus melihatmu di sini. Aku juga bukan orang tuli untuk tak mendengar orang orang memanggil namamu. Mendengar suaramu. Suaramu terdengar jelas dalam pendengaranku. Jernih. Aku juga bukan orang bisu meski aku cenderung diam. Diamku tak berarti bisu. Tapi aku hanya memilih untuk tak bicara. 
Aku menikmati suasanaku. Biarkan aku. Lama lama aku juga akan terbiasa. Kalaupun ini merupakan cinta, cinta juga tak selamanya memiliki. Mencintai pun juga hal yang wajar. Tak dapat dia, stok wanita di dunia ini berlimpah. Sangat melimpah. “hhhhh”, kuhela nafas dalam dalam. Kupasang “barang berhargaku”, kacamata minusku. maklum tanpanya aku sulit menebak wajah orang. Pelan pelan aku bangkit dan beranjak dari tempat dudukku. “Hasta Luego, sampai jumpa lagi”, ujarku. Sebagian mereka ada yang mengulang kembali kalimat itu. Sementara yang lain hanya melambaikan tangan. Dia tak menoleh lagi. 
Bila dia terlahir untukku, dia pasti hanya untukku. Bukan untuk siapa siapa. bila aku terlahir untuknya, aku pasti hanya untuknya. Bukan untuk siapa siapa. 
Dialah diaku, bukan dia yang lain. 
Bila melupakannya terlalu sulit, aku akan terus mengingatmu. Mungkin itu lebih mudah. 
 Sungguh aku menyangka bahwa bidadari itu lebih cantik darinya. Tapi ketika itu dialah bidadarinya. Ketika tak memiliki, berarti aku tak punya 

 Tiba tiba saja kalimat itu lahir dan muncul dalam otakku. Kalimat para pecinta. 

06-02-2013 12:41 pm